Selasa, 26 Mei 2009

Catatan Saat si Sulung Bagas 12 tahun ( Kasih )


Hari ini tepatnya 26 Mei 2009 ada ingatan yang mundur ke 12 tahun yang lalu pada tanggal yang sama tahun 1997 di hari menjelang siang ada sebuah perubahan dalam hidup ini, di hari menjelang siang telah merubah status dari seorang suami plus menjadi seorang bapak.

Hari ini adalah si sulung Fernando Bagasta Sinulingga putra pertama yang genap berusia 12 Tahun, ada kenangan yang tidak terlupakan : setelah berpacaran lebih 7 tahun dengan ibu yang melahirkan Bagas (nama kecil si sulung) dan memutuskan untuk mengikat janji didepan altar sebuah gereja Katholik di kawasan Cileduk Tangerang - Banten (gereja ini sudah ditutup karena tidak ada ijin) : "tidak ada yang dapat memisahkan kecuali maut" itu janji di didepan altar dan buah janji itu adalah anugerah Tuhan yang baik, tidak menunggu terlalu lama Tuhan telah memberikan seorang anak laki-laki, yang diberikan nama Fernando Bagasta Sinulingga memang ada yang menyebutkan "apalah arti sebuah nama" tapi umumnya orang tua (khususnya Indonesia) nama masih punya arti minimal merupakan sebuah harapan, begitu juga dengan nama yang diberikan untuk si sulung mengandung sebuah arti dan harapan: kesucian dan mencerminkan ada mengalir darah Jawa dan ada keturunan Batak (Karo). Dan harapan nya : menjadi baik dan menjadi tempat orang mengadu (pemimpin yang bijaksana), kalaupun dia tidak memimpin dalam artian sebagai pemimpin formal minimal dia bisa memimpin adik-adik nya kelak dan memimpin hati ibu dan bapaknya tenteram dengan kehadirannya. Dari nama itu juga tercermin menyatukan banyak perbedaan ada da budaya bersatu: Bagas biasanya dipakai orang Jawa dan ta biasa dipakaim orang Karo dan yang jelas dibelakang nama ada sebuah marga. Dan nama itu menjadi harapan bisa menyatukan perbedaan - perbedaan itu.

Si sulung tumbuh sehat dan kuat dan banyak pengalaman sebagai bapak / ibu muda membesarkan anak, mulai panik kalau dia terserang sakit, sedikit adu mulut karena saling merasa yang paling hebat mendidik anak. Ini lah belajar membangun janji didepan altar, bahwa ada perbedaan yang kita miliki mulai dari budaya, kebiasaan waktu kecil, kadang timbul emosi. Dalam rumah tangga perbedaan itu merupakan sebuah bunga kehidupan perkawinan, dan membuat perkawinan itu menjadi indah.

Setelah 12 tahun berlalu sekarang ada sebuah pengalaman yang bisa dicatat "Perbedaan membuat sebuah kebahagiaan karena ada cinta dan kasih" kita menyadari kita dilahirkan karena perbedaan : ibu kita seorang perempuan dan bapak kita seorang laki-laki dan karena perbedaan ini maka lahirlah kita dan ternyata saat kita bertemu dengan pasangan kita juga banyak perbedaan yang muncul dan ketika perbedaan kita sepakati menjadi sebuah pengertian yang masing-masing pihak bisa menerima kita bisa menyatukan janji kita untuk mengikat kesebuah kehidupan bersama dan semua ini bisa kita lakukan dengan dasar sebuah cinta dan kasih, inilah ideologi sebuah perkawinan. Dan Tuhan juga menciptakan manusia dengan perbedaan mulai dari nenek moyang manusia "Adam & Hawa". Dan karena perbedaan itu mereka dilemparkan Tuhan Kedunia dan Tuhan memberikan mereka akal dan pikiran dan kita inilah keturunannya yang saat ini dengan berbagai bangsa dan ras.



Dalam kehidupan kita berkarier dan kehidupan politik dinegeri ini kita melihat banyak benturan karena masing-masing orang atau kelompok membesarkan perbedaan, dikantor kita mulai membesarkan perbedaan berdasarkan alumni dan didunia politik kita mulai membesarkan perbedaan dengan ideologi dan yang lebih irononisnya lagi kita mulai dengan membesarkan perbedaan berdasakan Suku , Agama & Ras (SARA). Dan yang kita saksikan setiap politikus berbicara sesuai dengan kepentingan sesaat, saat dia mencalonkan diri menjadi presiden atau wakil presiden dan partainya yang berbasis agama kalah dia bicara "saya tidak memusuhi agama dan golongan lain" tetapi saat dia berkampanye ingin memenangkan partainya dia berkata kita harus menegakkan ideologi agama tanpa memikirkan hak orang orang lain.


Di negeri yang kita cintai ini (Indonesia) yang sudah bisa kita saksikan dengan jumlah suku ratusan dan agama yang dianut berbeda-beda dan para pendiri negeri ini (founding father) jelas-jelas memnciptakan ideologi berdasarkan Pancasila dan dengan "Bhineka Tnggal Ika" mereka menyatakan berbeda-beda tetapi tetap satu kenapa kita sebagai generasi penerus bangsa membuat ideologi baru, sehingga kita harus berkelahi untuk membela ego kita.


12 tahun si sulung merefleksikan sebuah perbedaan bisa disatukan karena ada komitmen "cinta dan kasih" seandainya negeri ini penuh dengan "cinta dan kasih" kita bisa membuat negeri ini mejadi makmur dan menjadi tempat semua orang bisa hidup.

Dan ada pengalaman masa remaja ketika hidup di Kota Pematangsiantar, kota ini bisa hidup dengan penuh damai karena perbedaan, kota ini bisa hidup dengan banyak etnis dan agama, memang ada gesekan kecil seperti kita hidup berumah tangga tetapi hanya sebagai pengindah kehidupan yang berbeda, tapi beberapa bulan yang lalu menyaksikan kehidupan di kota ini sudah terlihat jelas perbedaan di mulai dibesarkan, dulu kalau semua orang dikota ini bisa duduk di kedai kopi dan bicara politik dengan ideologi yang sama "Pancasila" sekarang mereka duduk dengan bicara ideologi yang berbeda sehingga sendi-sendi kehidupan yang lama bisa hidup dengan perbedaan kemungkinan akan terkikis dengan penonjolan perbedaan. Dan harapan semua orang mungkinkah kota ini akan kembali seperti dulu denga penghuni yang berbeda secara suku dan agama tetapi bisa menyatukan cita kasihnya dengan sebuah ideologi sama dengan menganut "Bhineka Tunggl Ika". Dan harapan kota ini bisa tetap menjadi contoh berkehidupan yang berbeda tetapi bisa saling mengerti ditengah hiruk pikuknya daerah lain menonjokan ideologi suatu agama untuk dipatuhi oleh orang lain yang tidak meyakininya, sementara daerah itu masih dalam wilayah Indonesia yang dihuni oleh banyak perbedaan Agama dan budaya.

Dan keyakinan seperti tangga, untuk naik kelantai berikutnya kita butuh anak tangga yang tingginya berbeda (ada trap) dan ini yang membuat kita tidak tergelincir seihingga kita sampai kesebuah ketinggian (kesempurnaan hidup). Dan dalam kehidupan baik berumah tangga, berkarier dan berpolitik kita butuh perbedaan tetapi kalau perbedaan itu dibuat seperti anak tangga kita percaya perbedaan itu merupakan sebuah anugerah Tuhan yang mencintai umatnya kita akan memcapai sebuah ketinggian yang luhur. Anak tangga adalah sebuah ideologi atau kesepakatan bersama bahwa ada yang mayoritas dan ada yang minoritas (gambaran anak tangga) yang berlandaskan kepada "kasih" atau dalam bahasa Batak Toba "holong".

Jumat, 08 Mei 2009

Dialog : Visi kepemimpinan Siantar - Simalungun 02 Mei 2009 di Siantar Hotel Pematang Siantar

Catatan seorang Jurnalis (Alvin) :


Marsipature hutana be. Slogan itu pernah sangat kesohor di ranah Tapanuli. Pencetusnya adalah mantan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Alm Raja Inal Siregar. Tujuannya, mengingatkan para Batak perantau sukses agar selalu ingat membangun kampung halaman. Bahkan, saking kesohornya slogan Marsipature Hutana be itu, sempat dicatut menjadi nama perjudian toto gelap alias togel: Martabe.
Walau tak ada kaitannya dengan Marsipature Hutana Be, tapi acara temu kangen diskusi dan dialog bertema Visi dan Misi Kepemimpinan Siantar-Simalungun, bisalah dikait-kaitkan dengan Batak perantau. Pasalnya, selain digagas oleh anak-anak Siantar alias Siantarman perantau, tujuannya adalah membangun Kota Siantar dan Kabupaten Simalungun sesuai keinginan masyarakat.
Temu kangen itu dihadiri seratusan orang warga Siantar dan Simalungun dari latarbelakang kehidupan berbeda. Ada pegawai negeri, pegawai swasta, pegawai bank, ibu rumah tangga, wiraswasta, aktivis, serta para pemerhati. Diskusi juga disuguhi kopi dan tambul-tambul ringan. Tapi tak ada pejabat yang hadir.
Awalnya, acara benar-benar menjadi temu kangen karena yang hadir sudah mewakili generasinya—muda dan tua. Sebagian besar mereka saling kenal namun sudah lama tak bersua. Ada yang bernostalgia lalu tertawa-tawa.
Acara diskusi digagas Karyanta Sinulingga dan Parlin Sinaga dengan fasilitator Edisamsi Silitonga. Ketiganya--- bersama kru--- datang dari Jakarta untuk mengakomodir ide-ide segar yang bisa menjadikan Kota Siantar seperti yang diinginkan masyarakat, bukan keinginan pemimpin.
“Kalau ingat zaman sekolah dulu, wah seru. Cabut sekolah nongkrongnya di SMA 3. Malamnya ngebut naik kereta mengitari Lapangan Adam Malik. Kalau standar kereta belum menyentuh aspal, belum mantaplah. Setelah itu makan jagung bakar,” kata Karyanta Sinulingga berapi-api kepada rekan-rekannya sebelum acara diskusi berlangsung.
Karyanta adalah anak seorang tentara yang dulunya bertugas di Rindam. Lelaki yang lahir 45 tahun silam, berkulit putih ini merupakan alumni SMP Sultan Agung. Sekarang Karyanta mengelola bisnis di Jakarta. Dia juga bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta, serta merangkap sebagai seorang konsultan untuk urusan air mineral isi ulang.
Sementara Parlin Sinaga adalah pebisnis bidang informasi dan teknologi (IT) di Jakarta. Kata Parlin, diskusi yang digelar berawal dari ngopi bareng di Jakarta. Selanjutnya obrolan itu ditularkan melalui dunia maya seperti face book yang sedang ngetren. Ternyata sambutan di dunia maya ini malah lebih menarik. Banyak anak-anak Siantar yang punya ide segar untuk menjadikan kota Siantar sesuai keinginan mereka.
“Ini kepedulian orang Siantar terhadap kotanya,” kata Parlin Sinaga sebelum memperkenalkan diri saat acara diskusi hendak digelar. Untuk itulah, kata Parlin, Siantar punya potensi untuk dikembangkan tanpa menghilangkan ciri khasnya.
Ketika acara diskusi dibuka Edisamsi Silitonga--- dosen mengajar di sejumlah universitas di Jakarta--- sangat banyak opini dan aspirasi yang dilontarkan kepada dua orang anak Siantar perantau itu; Karyanta Sinulingga dan Parlin Sinaga. Semisal seperti yang dikatakan Londut Silitonga seorang pegawai bank di Siantar yang menginginkan Kota Siantar menjadi kota pendidikan. Untuk itu Londut meminta kepada pemimpin yang akan datang memikirkan usulannya.
Lain lagi opini yang dilontarkan Imran, warga Jalan Pattimura. Katanya, Kota Siantar memiliki nilai sejarah luar biasa. Di kota inilah Oeang Republik Indonesia pertama di wilayah Sumatera dicetak oleh Gortap Sitompul, orang Tarutung yang hijrah ke Kota Siantar. Selain itu kota ini juga memiliki keberagaman suku.
“Lihat saja nama kampung yang ada di kota ini seperti Kampung Melayu, Kampung Kristen, bahkan sampai kampung Keling pun ada. Ini artinya, Siantar punya sejarah. Tapi apa visi dan misi seorang pemimpin untuk menjadikan kota ini menjadi kota idaman. Itu yang harus kita pikirkan. Saya sangat setuju jika kota ini dijadikan kota pendidikan, tapi tentu itu tak lepas dari kebijakan seorang pemimpinnya,” kata ayah 2 anak ini.
Sangat banyak memang opini yang dilemparkan. Siti Hawa, seorang ibu rumah tangga menginginkan upah buruh perempuan bisa lebih sejahtera. “Lihat para wanita petugas kebersihan di kota ini. Mulai pukul empat pagi mereka sudah bekerja. Tapi upah yang mereka dapatkan masih jauh dari harapan,” kata ibu berjilbab ini.
Sedangkan Samsudin Ginting mengidolakan pemimpin bermoral, baik, jujur, tidak obral janji, dan bekerja berdasarkan potensi yang ada. “Seorang pemimpin harus patuh terhadap Undang-undang Dasar 45. Itu tak boleh ditawar!” pungkasnya.
Ya! Sangat banyak usulan yang dilontarkan. Seperti yang diusulkan wartawan koran ini, pemimpin ke depan yang diinginkan juga harus memikirkan para abang becak yang selama ini nasibnya selalu dikebiri. Pasalnya, empat tahun lalu ada wacana hendak memberangus keberadaan becak BSA dari kota ini. Parahnya, wacana pemberangusan itu malah datang dari wakil rakyat yang notabene dipilih oleh rakyat.
Padahal jika merunut sejarah, becak BSA hadir di kota ini sebagian besar karena dibawa dari Pulau Jawa dengan kapal Tampomas oleh anak-anak Siantar. Hanya sebagian kecil yang ditinggalkan Belanda. Artinya, jika dikelola dengan profesional, becak BSA tentu bisa menopang dunia pariwisata Siantar dan Simalungun sebagai pintu gerbang menuju kota turis, Parapat. Secara langsung punci-pundi PAD kota ini semakin menggunung.
Harus diakui, acara dialog dan diskusi memang tidak berkembang. “Kita tidak perbolehkan kritik. Kita akan batasi. Kita hanya ingin mendengar apa yang diinginkan. Memang orang yang hadir belum tentu mewakili aspirasi warga Siantar dan Simalungun. Tapi setidaknya kita sudah punya pegangan,” kata Karyanta sembari berjanji hasilnya akan dirangkum menjadi suatu visi dan misi kepemimpinan yang memang bermanfaat untuk ditindaklanjuti pada diskusi selanjutnya.
“Siantar memang punya potensi sebagai kota jasa. Namun, untuk memberdayakannya tidak bisa lepas dari siapa pemimpinnya. Ke depan kita perlu rumuskan bagaimana kriteria seorang pimpinan di Kota Siantar dan Simalungun ini. Bisa jadi kita akan buat seminar dengan mengundang pakar-pakar,” sambungnya.
Diskusi memang tanpa silang pendapat. Tapi harus diakui banyak pemikiran tentang sosok pemimpin yang diidam-idamkan. Mulai harus bermoral, jujur, cerdas, tidak korup, harus dekat dengan rakyat, dan lain sebagainya. Begitupun, diskusi belum mengerucut, belum diketahui kemana Siantar ini hendak dibawa.
(*)

Senin, 08 September 2008

Membangun organisasi yang berkualitas

"Jika Anda ingin bermain bersama sebagai satu tim, Anda harus memperhatikan satu dengan yang lain. Anda harus mengasihi satu dengan yang lain". (Vince Lombardi)

Kepemimpinan adalah: “proses mempengaruhi aktivitas seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama dalam situasi tertentu”. Kalau kita berbicara pemimpin berarti ada satu tim yang terdiri dari dari satu orang atau lebih yang digerakkan oleh seseorang, yang menggerakkan ini adalah sang pemimpin. Untuk menggerakkan orang lain kita harus bisa mempengaruhi (secara positip) pikiran - pikiran orang yang ingin kita gerakkan atau merubah pikiran orang, aspek yang mempengaruhi perubahan :


1. Aspek anggota tim (people), menjadi individu yang dinginkan oleh tim
2. Aspek pemimpin (leader), menjadi panutan bagi orang lain


Anggota (people) adalah bagian dari tim yang harus diubah dan yang sangat menentukan berhasil tidaknya suatu tim dan pemimpin (leader) adalah yang mengelola perubahan.

Perubahan itu harus dikelola dengan cinta dan kecintaan, kekuatan cinta dan kecintaan adalah kekuatan yang menjadikan keberadaan seorang pemimpin di dalam kehidupan anggota tim dan ini – menjadikan sebuah kehidupan tim yang bernilai.


Kalau kita mengartikan tim tadi adalah suatu organisasi berarti seorang pemimpin dalam satu organisasi harus dicintai oleh bawahannya. Untuk mendapatkan cinta dari bawahan kita harus bisa memanajemeni perubahan dan perubahan ini erat kaitannya dengan :

1. Nilai-nilai yang diyakini seseorang
2. Sikap dasar yang timbul karena adanya nilai-nilai tsb
3. Perwujudan sikap yang tampak melalui perilaku


Untuk melakukan perubahan pemimpin harus meletakkan nilai-nilai organisasi yang universal sbb:
  1. Organisasi menjadi tolok ukur dalam keberhasilan, kepuasan pelanggan dan kualitas produk dari oraganisasi
  2. Mengedepankan kepercayaan, ketulusan, kejujuran, kehangatan dan rasa saling menghormati dalam setiap hubungan antar anggota organisasi maupun dengan pelanggan organisasi.
  3. Kerjasama dalam tim - tidak ada yang dapat bekerja sendiri.
  4. Pengembangan yang berkesinambungan dengan menggali setiap potensi diri dari setiap anggota organisasi

Keempat nilai - nilai universal organisasi tsb mendorong kita untuk berubah dari pola kediktatoran sebagai pemimpin untuk menjadi pemimpin yang bisa memanajemeni perbedaan dengan bawahan (anggota tim) dengan dasar-dasar yang sangat manusiawi yang kita sebut "kepemimpinan yang berlandaskan keadilan":

  • Kita tidak dapat disebut sepenuhnya hidup, bila kita tidak sepenuhnya hadir dalam hubungan kita dengan bawahan. Kehadiran kita yang penuh kasih sayang-lah, yang menjadikan kita pribadi yang kehadirannya dirindukan oleh bawahan. Ingatlah, bahwa cinta adalah pengutuh kehadiran.
  • Pemimpin yang berhati penuh kasih sayang, akan menjadikan kecintaan dari bawahan yang mengenal sang pemimpin.
  • Maka janganlah hanya hadir. Hadirlah dengan penuh kesungguhan untuk memajukan, mengangkat, dan memuliakan semua yang keberadaannya dihadiahkan kepada sang pemimpin (adalah bawahan kita).

Dan yang ini harus sang pemimpin perhatikan. Bila pemimpin penyayang, pemimpin akan menjadi pemberi. Dan karena pemimpin memberi, pemimpin banyak menerima. Ketahuilah, kasih sayang mengubah pemberian menjadi penerimaan, inilah yang disebut keadilan.


Pemimpin diharapkan dapat merubah pribadi setiap anggota tim (bawahan) dan dirinya dengan konsep:

  1. kepala kita dipenuhi pikiran baik (rencana)
  2. hati kita dipenuhi ketulusan (niat)
  3. pundak kita dipenuhi rasa tanggung jawab (komitmen)

Pada Buku pegangan bagi promotor keadilan, dan keutuhan ciptaan yang diterbitkan oleh Komisi Internasional untuk Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan ciptaannya (KPKC) kita dapat melihat berbagai cara memahami apa arti keadilan :

  1. Keadilan berkaitan dengan keseimbangan hak-hak/hubungan-hubungan. Keadilan didefenisikan sebagai memberikan kepada setiap orang apa yang pantas diterimanya. Dalam arti ini, keadilan hanyalah soal ganjaran dan hukuman.
  2. Keadilan bersangkut paut dengan kebutuhan, hak, dan kewajiban setiap orang dengan dalam masyarakat. setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk bertindak terhadap orang - orang lain dengan cara yang menjamin apa yang mereka perlukan untuk hidup mereka, mengganjar perbuatan baik, dan menghormati hak - haka asasi, dan untuk mengupayakan agar setiap orang menerima apa yang perlu untuk keberadaannya sendiri sebagai manusia.
  3. Keadilan berhubungan dengan watak orang. Menurut arti ini, yang ditempatkan pada pusat perhatian bukan hasil yang diinginkan dari segi sosial dan bukan ketaatan kepada hukum moral, melainkan yang ditekankan adalah watak pribadi. Keadilan bukan suatu keadaan publik, bukan pula kesesuaian dengan suatu standar moral objectif, melainkan adalah apa yang nyata-nyata apa yang dilakukan orang adil; ada satu kemahiran moral, suatu keunggulan keadilan, seperti adanya keunggulan keutamaan-keutamaan lainnya.
  4. Keadilan adalah hubungan benar antara orang yang satu dan orang yang lain, antara orang dan alam ciptaan, antara orang dan Sang Pencipta. Usaha untuk membangun keadilan adalah usaha untuk membangun hubungan yang konstruktif dan membebaskan antara semuanya itu.
  5. Keadilan ini adalah anugerah Sang Pencipta dan sekaligus sesuatu yang harus dikerjakan orang.

Dari konsep - konsep yang dikemukakan diatas bagaimana kita mengaplikasikan dalam kegiatan kita berorganisasi:

  1. Membangun pribadi pemimpin, menjadi pelatih yang berkualitas
  2. Membangun pribadi anggota tim, menjadi pemain yang berkualitas

Ada delapan karakter penting yang membuat sang pemimpin menjadi berkualitas dan bisa membangun anggota tim yang berkualitas:

  • Pertama, jadilah pemimpin yang menghormati bawahannya.
  • Kedua, jadilah pemimpin inspirator bagi bawahan.
  • Ketiga, jadilah pemimpin yang mempunyai visi dan misi.
  • Keempat, jadilah seorang guru.
  • Kelima, jadilah pemimpin mempunyai toleransi.
  • Keenam, jadilah pemimpin yang harus berkomunikasi dengan jujur dan terbuka. .
  • Ketujuh, jadilah pemimpin yang dapat dipercaya oleh bawahannya.
  • Kedelapan, jadilah pimpinan yang dapat melakukan apa yang telah diajarkan.

Pemimpin yang baik harus mempunyai kedelapan karakter tersebut.

Rabu, 03 September 2008

MY FAMILY - MY DREAM

Anugerah dari Yang Maha Kuasa begitu indah, mimpi saya untuk mempunyai keluarga begitu singkat rasanya, walaupun untuk mendapatkan itu jaraknya dari saat saya bermimpi hitungannya puluhan tahun (saat saya bermimpi usia saya masih 17 tahun dan sekarang saya berada di usia kepala 40-an menjelang 45).



Rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas pemberian 3 putra : Bagas, Yoga, Agi (terlahir dari istri pilihan sendiri/Dian), mereka yang menjadi motivator untuk meraih kebaikan & kebenaran (My Family).



Ibarat seorang pendaki (climber) yang harus mengalahkan setiap puncak gunung semangat untuk mendaki gunung kehidupan untuk mencari "kebaikan & kebenaran" terus terpacu oleh pangeran-pangeran & permaisuri Anugerah Sang Pencipta.



Saat-saat terindah adalah saat berkumpul, bertualang dengan mereka (photo; di pantai sekitar Gunung Kidul-Jogja). Mereka cermin dari sebuah rencana anak manusia yang diijinkan oleh Yang Maha Kuasa, dalam kehidupan kita selalu harus mempunyai impian dan impian diwujudkan dalam rencana selanjutnya rencana diaplikasikan dengan semangat "3B":




  1. Belajar (berlatih): setiap waktu kita harus membuat rencana dan kegiatan belajar/berlatih dari pengalaman baik maupun buruk yang kita alami, (bagian dari meraih impian).

  2. Bekerja : setiap waktu kita harus membuat rencana kerja dan mengaplikasikannya (sebuah tuntutan dan kewajban untuk meraih impian).

  3. Berubah : hasil kerja adalah puncak impian, setiap impian tercapai kita mengubahnya menjadi impian baru, (hasil kerja kita hanyalah sebuah buah dari pohon impian kita).

Bila kita mampu membuat diri kita menjadi optimis, menarik, menyenangkan dan hidup, maka pekerjaan kitapun menjadi luar biasa. Yang membuat itu semua adalah mereka "keluarga yang diberikan Sang Pengasih".


Impian menjadi sangat sederhana :"menghidupi pohon keluarga ditanah yang subur" (My Dream). Ini adalah bagian dari kepemimpinan, pemimpin yang baik lahir dari mimpi yang sederhana (keluarga yang hidup normal) seperti pepatah mengatakan "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya". Akan tumbuh pohon-pohon yang baik.



(Karyanta J Sinulingga)










"RIWAYAT SAYA" -"KOTA SIANTAR dan "PERBEDAAN"

Dilahirkan dari Bapak & Ibu dari salah satu etnis batak di SUMUT yaitu Batak Karo dari marga Sinulingga (tepatnya 22-Juli-1964), dan dibesarkan dilingkungan militer (TNI-AD) - bapak berprofesi sebagai perwira militer, saat berumur 1 tahun keluarga saya pindah ke Aceh dan praktisnya masa kecil saya dihabiskan di daerah ini dengan berpindah-pindah dibeberapa tempat di wilayah Aceh (Banda Aceh-Mataie-Sigli-Tangse), sekolah dasar saya dimulai dikota Banda Aceh ;pada tahun 1971-tepatnya SD Methodis (hanya 1 tahun)- sampai dengan kelas 4 SD saya lalui di propinsi paling awal Repuplik Indonesia ini dengan pindah di tiga sekolah dasar (di sekolah Negri), karena saya harus menamatkan sekolah dasar saya dan sementara orang tua masih terus berpindah tugas - saya dititipkan dikeluarga paman dari pihak ibu - di ibu kota kabupaten kampung halaman leluhur saya sebuah kota berhawa sejuk (Kabanjahe), akhirnya saya menamatkan SD di Kabanjahe (ibu kota Kab.Karo) tepatnya SD Katolik St.Xaverius (tahun 1976), pada tahun yang sama orang tua saya ditugaskan di Kota Padang Sidempuan dan memulai SMP di kota ini (SMP Negri 1), saat kenaikan kelas keluarga saya diharuskan pindah ke kota Pematang Siantar (dekat danau Toba) praktisnya kelas 2 SMP saya sudah di Sekolah Perguruan Sultan Agung (sekolah asimilasi warga keturunan Tionghoa) dan dikota ini saya menamatkan SMA (tahun 1983) di Perguruan yang sama (ini awal saya mempunyai identitas kota, merasakan menetap di satu kota, mencintai sebuah kota) dan saya berani menyebutkan saya "anak Siantar" (silahkan kunjungi http://www.parsiantar.blogspot.com/) pada tahun yang sama saya masuk Perguruan Tinggi di kota Medan (Universitas Medan Area) mengambil jurusan Teknik Mesin (selesai Desember 1988).
Selama kuliah dikota Medan - kota mudik (atau kota liburan saya) tetap kota Pematang Siantar .

Bapak saya mempunyai hobby bertani , bertenak dan meng "utak-atik mobil tua", keluarga kami mempunyai tanah pertanian dan yang jelas kami tidak pernah memiliki mobil yang dibeli dari dealer, mobil dirumah hasil pembelian diloakan (mobil yang sudah terduduk) diperbaiki kembali oleh sang bapak jadilah mobil ini bisa digunakan untuk ke ladang, anak-anak terpaksa (dipaksa) mengikuti hobby sang bapak, sehingga anak-anak beliau paling tidak merasakan bagaimana jadi petani dan jadi montir, dari salah satu hobby bapak yang membuat saya terbiasa dengan mesin sehingga saya memilih kuliah di jurusan teknik mesin.

Pada awal tahun 1989 setelah memperoleh gelar Sajana Teknik Mesin diharuskan (karena butuh pekerjaan) meninggalkan kota tempat saya menghabiskan masa remaja hingga menginjak dewasa , saya memulai petualangan karier saya di Pulau Jawa (karena terbatasnya lahan karier di pulau Sumatera buat saya), dengan bermodalkan ijazah sarjana teknik mesin - dimulai di Kota Pekalongan pada industri kayu (awal 1989, praktisnya masa pengangguran saya setelah menjadi sarjana relatif singkat) dengan jabatan pertama saya sebagai Kepala Produksi - merangkap Kepala PPIC selama 6 bulan, kemudian hijrah ke Tangerang bekerja di industri lampu natal sebagai Kepala Maintenance selama 1 tahun. Pada pertengahan tahun 1990 saya sudah terdampar pada perusahaan industri keramik di kota yang sama (tepatnya di Kecamatan Pasar Kemis) sebagai Mechanical Engineer - di industri ini saya bertahan sampai tahun 1992. Dan pada tahun yang sama saya bergabung pada industri plastik berbasis extruder dan injection machine (dengan produk building material: pipe&fitting) berlokasi di Bekasi-Cibitung dimulai dari karier Engineer- selanjutnya ditugaskan di Ngoro-Jawa Timur meng-surpervisi project pembangunan pabrik (project leader) -selanjutnya menetap selama 5 tahun dikota ini diperusahaan yang sama sebagai Kepala Maintenance.

Dan saat berkarier dikota ini (Ngoro Ja-Tim) saya memutuskan berumah tangga tepatnya tahun 1996 - mempersunting putri Jogja (Elizabeth Dian Nugrahaeni) yang besar di Jakarta dari ayah seorang abdi negara / pensiunan POLRI (latar belakang sama-sama anak kolong) dan satu tahun kemudian kami mendapatkan putra pertama (Tahun 1997, diberi nama Fernando Bagasta Sinulingga) dan satu tahun lagi mendapatkan putra ke 2 (Tahun 1998, diberi nama Julius Yoga Inganta Sinulingga)- kata teman-teman: kejar target (maklum saat berumah tangga usia saya menginjak 32 tahun), dan saat berkarier dikota ini saya menyelesaikan Program Pasca Sarjana - S2 (MM-STIE ABI) tepatnya di kota Surabaya, tahun 2000 saya dikembalikan ke Cibitung - Bekasi dan melanjutkan karier saya sebagai profesional di bidang manufacture (sampai mengepalai satu divisi) diperusahaan yang sama (PT. Wavin Duta Jaya - http://www.wavin.co.id/).
Tahun 2004 kami dikaruniai putra ketiga (diberi nama Daniel Agita Sinulingga) -tepatnya saya saat ini "bapak dari 3 anak laki-laki".

Dan pada tahun 2005 saya memulai membangun bisnis keluarga bersama dengan istri, juga tidak jauh dari profesi saya (bidang manufacture) yaitu industri AMDK dengan merek dagang Meciho dibawah bendera CV.Bayos (silahkan kunjungi http://www.meciho.indonetwork.co.id/ dan http://www.meciho.blogspot.com/), belajar dari membangun bisnis sendiri saat ini (saya dan istri) mejadi konsultan untuk industri AMDK disamping profesi saya sebagai Manager profesional di bidang manufacture, lebih tepatnya saya menjadi "advisor" bisnis istri saya (istri sebagai owner sekaligus konsultan yang telah mengkonsultani beberapa perusahaan AMDK). Jadilah saya seorang "profesinal yang merangkap eterpreneur".

Pada tahun 2007 perusahaan tempat saya bekerja membangun sebuah foundation (yayasan) yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan (khususnya dalam bidang sanitasi/kesehatan lingkungan) saya mengambil bagian sebagai salah satu ketua pelaksananya, hitung-hitung sebagai pengabdian saya kepada orang lain (social community).

Dan semenjak bergabung diperusahaan ini selalu terlibat dalam pengembangan ekonomi karyawan melalui KOPKAR, sebagai pendiri KOPKAR pada anak perusahaan di Ngoro Jawa Timur, dan sampai saat ini tercatat sebagai penasehat KOPKAR dan mewakili manajemen duduk dalam kepengurusan KOPKAR. Hasil kerja pengurus KOPKAR PT.Wavin Duta Jaya menghantarkan KOPKAR ini menjadi KOPKAR terbaik di Kabupaten Bekasi dan saat ini KOPKAR mengembangkan ekonomi kayawan dengan melatih para istri (keluarga karyawan) untuk bisa meciptakan peluang ekonomi (penghasilan kedua selain gaji sebagai karyawan).

Tahun 2000 : karena tidak bisa melupakan kenangan dengan masa remaja saya sebagai mantan Anak Rindam Siantar bersama teman-teman mantan anak Rindam memprakasai pendirian perkumpulan "mantan anak Rindan Siantar" se JABODETABEK bertujuan untuk menjalin ikatan silahturami sesama teman masa kecil, setahun kemudian kumpulan ini telah berubah menjadi Koperasi mantan anak Rindan Siantar yang disingkat "KOMARIS" dengan bisnis utamanya melakukan kerjasama pemasaran AMDK produksi CV.Bayos (mensinergikan kekuatan bisnis sendiri dengan kemampuan bisnis teman-teman).

Karena cintanya saya dengan kota Pematangsiantar saya dan teman-teman masa kecil di Siantar sering melakukan pertemuan rutin warung kopi disekitar Jakarta untuk berdiskusi tentang kota yang sama-sama kami cintai dan juga Danau Toba, yang berujung melalui diskusi didunia maya dan warung kopi "tentang keprihatinan atas kerusakan Danau Toba" kami dan teman-teman berhasil mendirikan komunitas penyelamat Danau Toba - "SAVE LAKE TOBA" yang lahir pada awal tahun 2009.

Dari riwayat kehidupan: "saya terbiasa dengan perbedaan, terbiasa sebagai pekerja dan leader". Masa kecil saya tertempa dengan disiplin militer dan kerasnya kehidupan anak kolong (istilah buat anak tentara) juga kerja keras, dan saat kecil berpindah-pindah kota dengan beragam budaya& bahasa daerah dan masa remaja hingga menjelang dewasa dihabiskan dikota yang unik "Kota Pematangsiantar" dan sampai saat ini saya sangat mencintai kota ini karena kota ini penuh dengan perbedaan (pluralisme) - kota ini dihuni dari berbagai etnis: batak, melayu, jawa,tionghoa, tamil, india, dan berdiri berbagai rumah ibadah (Mesjid, Gereja, Klenteng/Vihara, kuil,dll) tanpa pernah ada yang dibakar (semoga tidak pernah terjadi) dan di kota ini perbedaan itu hilang yang ada "persahabatan ditengah perbedaan" ini tercermin juga dari riwayat pemimpin kota (Walikotanya) sepanjang masa yang terdiri dari berbagai etnis dan Agama, hal yang saat ini mustahil disaksikan dikota lain yang kental dengan heroisme putra daerah asli dan agama mayoritas (seolah kembali lagi ke masa sebelum Sumpah Pemuda di dengungkan) dan dikota ini partai yang mengusung bendera Agama mengalami kekalahan, bukan berarti penghuni kota ini tidak beragama (semoga kota ini tidak pernah mengulangi riwayat kota-kota di timur Indonesia yang hancur karena perbedaan Agama). Dan dikota ini saya merasakan perayaan Agama di rayakan oleh semua umat Agama dan saya merasakan perayaan Maulid Nabi dirayakan oleh anak yang bukan beragama Islam dan dikota ini juga saya menyaksikan perayaan Natal dihadiri oleh anak yang bukan Kristiani dan dikota ini saya menyaksikan anak dari keluarga Muslim datang dan mengucapkan "selamat Natal" kepada tetangganya yang Kristiani dan anak keluarga Kristiani datang kerumah tetangganya yang muslim untuk mengucapkan "selamat hari raya Idul Fitri" dan saya merasakan meriahnya "perayaan Imlek" dikota ini dan juga merasakan perayaan "hari raya Devawali" (perayaan dari etnis keturunan Tamil). Kota ini menggambarkan pluralisme (Indonesia yang sebenarnya yang "berbhineka tunggal ika").
Dan yang jelas saya juga menikahi wanita dari suku yang berbeda; kata teman dekat saya dalam diri saya tercermin "bhineka tunggal ika" (keluarga besar saya juga terdiri dari berbagai agama, dalam satu keluarga terbiasa dengan agama yang berbeda dan perkawinan dengan suku yang berbeda).

Teman-teman dekat saya mengkalim diri saya "mencintai pluralisme" , perbedaan itu indah kalau kita menyadari bahwa kita memulai kehidupan didunia ini dari perbedaan (bapak kita laki-laki dan ibu kita perempuan), kalau tidak ada perbedaan kita tidak pernah hidup dan tidak berkembang (itu diajarkan guru kimia saya sewaktu di SMA).

Perbedaan tidak harus dimusnahkan tetapi harus disikapi secara positip:

  • Presiden Raymond Magsaysay Award Foundation, Carmencita T Abella, dalam surat elektroniknya kepada Maarif Institute tanggal 31 Juli 2008 menyatakan, Syafii Maarif dipilih karena komitmen dan kesungguhannya membimbing umat Islam untuk meyakini dan menerima toleransi dan pluralisme sebagai basis keadilan dan harmoni di Indonesia, bahkan dunia. (Kompas, minggu 5 Oktober 2008).
  • Beberapa saat sesudah penobatan Paus Yohanes Paulus II ia mengunjungi Polandia dan pemerintah takut padanya tetapi tidak dapat juga menolak putra besar Polandia ini; namun, ternyata di Polandia dia tidak berteriak mengeritik atau mencaci maki pemerintah atau paham tertentu, Ia hanya berpesan pada bangsanya :"jangan takut", jangan takut berjuang bagi perdamaian, bagi kebaikan bersama, bagi kepentingan umum. Dan inilah yang menjadi inspirasi segala pembaharuan kemudian yang menjadi begitu mulus. Ia melawan kekerasan bukan dengan kekerasan tapi dengan kelembutan dan kemendalaman visi (dikutip dari buku Terry Th Ponomban, Pr :"In Loving Memory of John Paul II")

Dan saya pikir apa yang didapatkan dari pemikiran Prof.DR. Syafii Maarif sudah lama terjadi di Pematang Siantar dan ini akan terkikis dengan sendirinya apabila kota yang sudah mempunyai dasar kehidupan menerima toleransi dan pluralisme sebagai basis keadilan dan harmoni di Indonesia tidak memiliki pemimpin yang berbasis seperti pemikiran Prof.DR. Syafii Maarif tsb, inilah yang membuat saya mencintai kota ini begitu juga umumnya generasi seumur saya yang pernah hidup di kota ini dan pernah merasakan kehidupan yang tidak terkotak-kotak karena agama yang dianut dan karena terlahir dari suku yang berbeda. Dan saya pikir pemimpin juga harus berpikir plural seperti apa yang dikemukakan Paus Yohanes Paulus II: "jangan takut berjuang bagi perdamaian, bagi kebaikan bersama, bagi kepentingan umum.

Kedua pemikiran diatas membuat cita-cita saya menjadi sederhana : "menjadi pemimpin yang bisa menjembatani perbedaan dan berjuang bagi perdamaian & kebaikan bersama".

(Karyanta J Sinulingga)